Instrumen · Risiko Tinggi
Saham AS
Saham perusahaan Amerika seperti Apple, Microsoft, dan Nvidia. Menarik, tapi untuk pemula lebih aman lewat ETF.
Apa itu?
Sama seperti saham Indonesia, tapi perusahaannya tercatat di bursa Amerika Serikat (NYSE dan Nasdaq). Di sana ada banyak perusahaan terbesar di dunia yang produknya kamu pakai setiap hari: Apple (iPhone), Microsoft (Windows), Alphabet (Google, YouTube), Nvidia (chip AI), Amazon.
Nama-nama di atas hanya contoh untuk mengenal, bukan rekomendasi beli.
Kenapa banyak orang tertarik
- Pasar saham terbesar dan paling likuid di dunia.
- Banyak perusahaan global yang tumbuh dari seluruh dunia, bukan hanya dari satu negara.
- Bisa beli pecahan saham (misalnya 0,1 lembar), jadi tidak perlu modal besar.
- Nilainya dalam dolar AS, yang dalam jangka panjang cenderung menguat terhadap rupiah.
Kenapa pemula sebaiknya lewat ETF dulu
Memilih satu saham artinya menaruh nasib di satu perusahaan. Perusahaan sebesar apa pun bisa turun 70% atau lebih, dan bisa bertahun-tahun tidak pulih. Banyak yang dulunya raksasa kini sudah tidak ada.
Sementara itu, ETF seperti S&P 500 atau Nasdaq berisi ratusan perusahaan sekaligus. Kalau satu perusahaan jatuh, dampaknya ke total kecil, dan perusahaan yang sedang tumbuh otomatis masuk ke dalamnya.
Kalkulator di situs ini sengaja tidak menyimulasikan saham individual. Kalau kita memilih saham yang sudah terbukti naik, hasilnya pasti terlihat bagus, padahal itu menyesatkan.
Risikonya
- Risiko satu perusahaan (kalau beli saham individual).
- Risiko kurs: kalau rupiah menguat, nilai investasimu dalam rupiah ikut turun.
- Jam perdagangan malam hari waktu Indonesia.
Biaya dan pajak
- Ada biaya transaksi dan biaya tukar rupiah ke dolar (spread kurs) di aplikasi.
- Dividen dipotong pajak di AS, umumnya 15–30% tergantung formulir pajak yang diisi di aplikasi.
Cara beli
Lewat aplikasi atau sekuritas yang menyediakan akses saham AS. Pastikan aplikasinya memiliki izin dari OJK, dan pahami di mana sahammu sebenarnya disimpan.